Tongkat sihir. Beres.
Seragam. Beres.
Selanjutnya? Bagian yang paling tidak disukai oleh si bocah konyol, Buku. Tahu tidak, setiap kali bocah itu disodori buku teks apapun —termasuk koran, majalah dan novel — dalam hitungan detik, dia akan tertidur pulas. Meskipun kelopak matanya sudah dijepit sedemikian rupa, tetap saja dia tertidur. Okaasan saja sudah menyerah pada anak ini. Untungnya, bocah konyol ini mempunyai daya ingat yang sangat bagus —sehingga nilai-nilainya di sekolah selama ini juga tidak mengecewakan.
Apakah sebaiknya ia membeli buku-buku tersebut? Bagaimanapun buku tersebut tak mungkin akan terbaca olehnya —untuk selama-lamanya. Buat apa buang-buang uang, kan? Tapi, kalau ketahuan Okaasan, bisa-bisa ia diceramahi berjam-jam. Ya sudahlah, toh uang Oyaji yang ia pakai. Huahaha.
Bocah jangkung itu melangkahkan kaki panjangnya memasuki toko buku tersebut. Buku-buku tersaji lengkap disana, mulai dari manga, majalah, novel sampai buku-buku yang tebalnya bisa untuk membunuh maling. Manga boleh juga, tuh. Lebih seru baca manga daripada buku teks —ada gambarnya, sih.
Bocah itu masuk semakin ke dalam, mencari-cari bagian buku sekolah. Diambilnya satu persatu buku-buku yang tertulis untuk kelas 7. Lama-lama tumpukan di lengannya semakin banyak dan berat.
Gila. Banyak banget.
Tergopoh-gopoh bocah itu membawa buku-buku tersebut ke kasir.
"Permisi, aku beli ini semua ditambah 2 buah manga Detektif Conan. Berapa?" ujarnya.
List buku yang dibeli:
Tahun I - VII: I Believe I Can Play oleh Nagi Nami : 715 yen
Tahun I: Baseball for A WEEK oleh Hattori Gunta : 550 yen
Tahun I: Ilmu Sihir Umum oleh Nozomu Kuon : 600 yen
Tahun I - VII: Magic World Book of Astronomy oleh Ran Shigata : 1825 yen
Tahun I - VII: Divination: Drift Past, Present, and Future oleh Kagetoki Endo : 1790 yen
Tahun I-VII: Ryoku no Rekishi oleh Sanzo Itou : 1300 Yen
Tahun I - VII: Art of Magic Potion oleh Ueno Hihara : 1500 yen
Tahun I - VII: Elemental Ecology oleh Rindou Ryu : 1430 yen
Tahun I - VII: Wild Guardian and Beast oleh Takeru Sigaya : 1970 yen
Tahun I - VII: Revolution of Physics oleh Eishun Takahashi : 1310 yen
Tahun I - VII: Evolution of Biology oleh Eishun Takahashi : 1690 yen
Tahun I - VII: Revelation of Chemistry oleh Eishun Takahashi : 1340 yen
Tahun I - VII: Mathematics Sux? Who says? oleh Taiga Sawamura : 1750 yen
Tahun I - VII: Who Am I? oleh Prof. Seishun Harada, Ph.D. : 1125 yen
Tahun I - VII: If School Is A Game: The Way To Break The Rules oleh Kiyoshi Eto : 1210 yen
Tahun I - VII: Let's Sing Along! oleh Yuna Uchizawa : 925 yen
Tahun I - VII: Cara Mudah Menjalin Relasi dan Kerjasama Yang Baik oleh Nanami Sachihoko, Ph.D. : 1050 yen
Tampilkan postingan dengan label Jumonji Avenue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jumonji Avenue. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 November 2009
RAS-su e Youkoso!
Naoto berjalan kembali menyusuri jalanan Jumonji —masih terkagum-kagum dengan tongkat Kappa kribonya. Heran, benda sekonyol itu bisa membuat moodnya amat sangat cerah. Dia sudah tak sabar ingin menceritakan pada kedua adik dan pada orangtuanya tentu —betapa keren dia bisa mendapatkan sebuah tongkat berisi nadi Kappa yang langka. Kappa Kribo! Catat itu. Mungkin Kappa Kribo wajahnya seperti Michael Jackson muda. Sugee—
"Hei, tongkat. Kau kuberi nama Kribo, ya!" ujarnya pada tongkat sihir barunya —yang tentunya tak bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
Bocah jangkung itu kemudian mengikuti sepasang ibu-anak melenggang ke arah toko seragam —RAS-su? Bocah itu langsung nyelonong masuk dan memandangi seisi toko dengan sedikit takjub. Buru-buru dia mengingat-ingat apa yang perlu dibelinya disana.
Banyak juga. Saat bocah itu membaca list seragam sekolahnya —dia terlonjak dan menjerit. Konyol sekali reaksinya. Dia tak menyangka bahwa seragamnya berupa kimono dan hakama lengkap dengan tabi dan zouri. Mau sekolah atau ke festival, nih? Bocah itu bengong dengan mulut ternganga di depan rak. Seragam seperti itu sangat merepotkan pakainya, tahu. Untuk pakaian sehari-hari saja, bocah itu lebih suka kaos oblong dan celana pendek yang sederhana. Tak pakai atasan lebih bagus —sayang tubuhnya sangat kerempeng, malu untuk dipamerkan.
Ara —ini merepotkan.
Akhirnya dengan enggan diambil jugalah semua kebutuhan seragam yang akan dipakainya di sekolah nanti. Semuanya dipilih dengan warna biru dan hitam. Dia tak suka warna yang lain. Kurang jantan —demikian pendapat si bocah. Naoto kemudian melenggang ke kasir —menyerahkan semua belanjaannya.
"Permisi. Aku beli satu set seragam ukuran M dan peralatan laboratorium atas nama Naoto Matsushima. Arigachuu~" ujarnya sambil nyengir lebar.
"Hei, tongkat. Kau kuberi nama Kribo, ya!" ujarnya pada tongkat sihir barunya —yang tentunya tak bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
Bocah jangkung itu kemudian mengikuti sepasang ibu-anak melenggang ke arah toko seragam —RAS-su? Bocah itu langsung nyelonong masuk dan memandangi seisi toko dengan sedikit takjub. Buru-buru dia mengingat-ingat apa yang perlu dibelinya disana.
# Empat stel seragam
# Satu mantel musim dingin
# Sepatu sekolah
# Dua stel seragam olah raga
# Satu tas sekolah
Banyak juga. Saat bocah itu membaca list seragam sekolahnya —dia terlonjak dan menjerit. Konyol sekali reaksinya. Dia tak menyangka bahwa seragamnya berupa kimono dan hakama lengkap dengan tabi dan zouri. Mau sekolah atau ke festival, nih? Bocah itu bengong dengan mulut ternganga di depan rak. Seragam seperti itu sangat merepotkan pakainya, tahu. Untuk pakaian sehari-hari saja, bocah itu lebih suka kaos oblong dan celana pendek yang sederhana. Tak pakai atasan lebih bagus —sayang tubuhnya sangat kerempeng, malu untuk dipamerkan.
Ara —ini merepotkan.
Akhirnya dengan enggan diambil jugalah semua kebutuhan seragam yang akan dipakainya di sekolah nanti. Semuanya dipilih dengan warna biru dan hitam. Dia tak suka warna yang lain. Kurang jantan —demikian pendapat si bocah. Naoto kemudian melenggang ke kasir —menyerahkan semua belanjaannya.
"Permisi. Aku beli satu set seragam ukuran M dan peralatan laboratorium atas nama Naoto Matsushima. Arigachuu~" ujarnya sambil nyengir lebar.
Mahou no Tsue Shop
Hoah!!
Woah!!
Desahan-desahan kekaguman entah sudah berapa kali terdengar keluar dari bibir Naoto saat permata browniesnya memandangi setiap bentuk arsitektur bangunan di sepanjang Jumonji Shopping Avenue. Kuno. Kuno abis malah. Sedikit menyesal menolak tawaran oyaji untuk menemaninya kemari. Tahu bakal tersesat begini, lebih baik dia melupakan gengsi untuk pergi sendirian ke tempat asing. Ah cuek, Naoto bukan orang yang mudah panik. Tersesat? Have fun saja, baby! Takut apa? Tinggal tanya sedikit di sini dan tanya sedikit di sana, nanti juga dia bisa balik lagi ke Fujisaki Inn. Bukankah disini banyak komunitas penyihir?
Dengan santai Naoto kembali menyusuri jalan itu --mencari toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan sekolahnya. Jujur, dia sudah lupa apa saja yang diperlukan. Maafkan kecerobohan bocah satu ini. Onegai.
Setidaknya ada satu yang bocah itu ingat. Tongkat sihir! Kenapa dia bisa ingat? Karena dia sendiri begitu antusias ingin cepat-cepat membeli tongkat sihir. Tongkat sihir beneran, saudara-saudara. Tidak seperti pesulap-pesulap gadungan yang tongkatnya hanya tongkat buatan dan tidak bisa mengeluarkan apa yang disebut dengan -MAGIC.
Oyaji bilang, sebaiknya Naoto memilih tongkat dengan kayu Elder dengan inti nadi Kappa. Cih! Masa Kappa. Bukankah itu monster sungai gundul yang membawa-bawa tempurung seperti kura-kura dan memiliki paruh seperti bebek? Apa sih yang hebat dari monster itu? Bukankah naga atau shikigami lebih keren?
Ah! Itu dia toko tongkatnya. Hebat, kan Naoto. Bagaimana tidak, papan nama toko itu terpampang sedemikian besarnya. Hanya orang buta saja yang tidak bisa melihatnya.
Dengan bersemangat, bocah itu masuk ke dalam toko antik tersebut. Desahan kekaguman kembali terdengar tak henti-henti dari bibirnya. Dengan cepat dia mengintip-intip ke setiap rak. Memegang-megang benda yang terlihat unik di matanya sambil meracau mengungkapkan kekagumannya. Kemudian, matanya menangkap sebuah daftar harga dan jenis-jenis tongkat serta daftar intinya.
"Wah, Japanese Dragon? Shinigami? Bakeneko? Gila, segini banyak yang keren, Chichi malah menyuruhku memilih Kappa sebagai inti tongkatku?! Tsk--"
Dengan sebal, bocah itu menjatuhkan begitu saja daftar tersebut ke atas meja. Kemudian menuju konter dan memesan. Ya, tongkat yang disuruh oyaji, tentu. Berani melawan bisa-bisa Naoto digunduli.
"Sumimasen. Saya pesan tongkat Elder dengan nadi Kappa," ujar Naoto --terdiam sesaat,"kalau bisa pilihkan yang Kappa-nya keren, ya!"
“Err—coba saya cari, semoga stok nadi Kappa pemenang kontes kebugaran tahun lalu masih ada.”
E? Kappa pemenang kontes kebugaran? Memangnya ada kontes kebugaran khusus Kappa? Tanpa bisa dikontrol, Naoto tertawa terbahak-bahak di tempat —bodo amat, deh meski dilihat orang-orang dengan tatapan aneh. Justru mereka-mereka yang tidak tertawa itulah yang aneh. Betul?
“Sayang sekali Kappa pemenang kontes kebugaran sepertinya habis, yang ada tinggal Kappa jenis langka, yang berambut kribo, masih mau? Elder inti Kappa kribo, tiga puluh sentimeter; 4,800 yen. Agak sedikit mahal, memang, tetapi namanya juga langka; konon bagus untuk mantra perubahan bentuk dan mantra ilusi.”
Kappa kribo? Apa lagi itu? Ha-Ha-Ha. Tawa Naoto semakin keras, man —ini tak baik untuk jantungnya. Dia harus mengontrolnya segera sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Brengsek, bisa-bisanya dia mendapatkan tongkat yang sama konyolnya dengan dirinya sendiri. Mungkin mereka memang jodoh. Ha-Ha-Ha.
"Ano —saya mau beli yang ini. Keren banget ya, ada Kappa yang kribo," ujar Naoto —masih terkikik. Bocah itu menggoyang-goyangkan tongkat barunya, sambil membayangkan wujud Kappa kribo. Pfft—
Bocah itu segera menyerahkan uang 4,800 yen pada pegawai magang tadi seraya berbisik, "Eh, Yang Mulia Dai kalian itu nyentrik sekali. Dia pemain opera, ya? Sepertinya dia bakal tampak lebih keren jika rambut gondrongnya itu dikribo seperti Kappa kribo ini."
Tanpa menunggu jawaban dari si pegawai magang, Naoto melenggang keluar sambil cekikikan.
Woah!!
Desahan-desahan kekaguman entah sudah berapa kali terdengar keluar dari bibir Naoto saat permata browniesnya memandangi setiap bentuk arsitektur bangunan di sepanjang Jumonji Shopping Avenue. Kuno. Kuno abis malah. Sedikit menyesal menolak tawaran oyaji untuk menemaninya kemari. Tahu bakal tersesat begini, lebih baik dia melupakan gengsi untuk pergi sendirian ke tempat asing. Ah cuek, Naoto bukan orang yang mudah panik. Tersesat? Have fun saja, baby! Takut apa? Tinggal tanya sedikit di sini dan tanya sedikit di sana, nanti juga dia bisa balik lagi ke Fujisaki Inn. Bukankah disini banyak komunitas penyihir?
Dengan santai Naoto kembali menyusuri jalan itu --mencari toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan sekolahnya. Jujur, dia sudah lupa apa saja yang diperlukan. Maafkan kecerobohan bocah satu ini. Onegai.
Setidaknya ada satu yang bocah itu ingat. Tongkat sihir! Kenapa dia bisa ingat? Karena dia sendiri begitu antusias ingin cepat-cepat membeli tongkat sihir. Tongkat sihir beneran, saudara-saudara. Tidak seperti pesulap-pesulap gadungan yang tongkatnya hanya tongkat buatan dan tidak bisa mengeluarkan apa yang disebut dengan -MAGIC.
Oyaji bilang, sebaiknya Naoto memilih tongkat dengan kayu Elder dengan inti nadi Kappa. Cih! Masa Kappa. Bukankah itu monster sungai gundul yang membawa-bawa tempurung seperti kura-kura dan memiliki paruh seperti bebek? Apa sih yang hebat dari monster itu? Bukankah naga atau shikigami lebih keren?
Ah! Itu dia toko tongkatnya. Hebat, kan Naoto. Bagaimana tidak, papan nama toko itu terpampang sedemikian besarnya. Hanya orang buta saja yang tidak bisa melihatnya.
Dengan bersemangat, bocah itu masuk ke dalam toko antik tersebut. Desahan kekaguman kembali terdengar tak henti-henti dari bibirnya. Dengan cepat dia mengintip-intip ke setiap rak. Memegang-megang benda yang terlihat unik di matanya sambil meracau mengungkapkan kekagumannya. Kemudian, matanya menangkap sebuah daftar harga dan jenis-jenis tongkat serta daftar intinya.
"Wah, Japanese Dragon? Shinigami? Bakeneko? Gila, segini banyak yang keren, Chichi malah menyuruhku memilih Kappa sebagai inti tongkatku?! Tsk--"
Dengan sebal, bocah itu menjatuhkan begitu saja daftar tersebut ke atas meja. Kemudian menuju konter dan memesan. Ya, tongkat yang disuruh oyaji, tentu. Berani melawan bisa-bisa Naoto digunduli.
"Sumimasen. Saya pesan tongkat Elder dengan nadi Kappa," ujar Naoto --terdiam sesaat,"kalau bisa pilihkan yang Kappa-nya keren, ya!"
“Err—coba saya cari, semoga stok nadi Kappa pemenang kontes kebugaran tahun lalu masih ada.”
E? Kappa pemenang kontes kebugaran? Memangnya ada kontes kebugaran khusus Kappa? Tanpa bisa dikontrol, Naoto tertawa terbahak-bahak di tempat —bodo amat, deh meski dilihat orang-orang dengan tatapan aneh. Justru mereka-mereka yang tidak tertawa itulah yang aneh. Betul?
“Sayang sekali Kappa pemenang kontes kebugaran sepertinya habis, yang ada tinggal Kappa jenis langka, yang berambut kribo, masih mau? Elder inti Kappa kribo, tiga puluh sentimeter; 4,800 yen. Agak sedikit mahal, memang, tetapi namanya juga langka; konon bagus untuk mantra perubahan bentuk dan mantra ilusi.”
Kappa kribo? Apa lagi itu? Ha-Ha-Ha. Tawa Naoto semakin keras, man —ini tak baik untuk jantungnya. Dia harus mengontrolnya segera sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Brengsek, bisa-bisanya dia mendapatkan tongkat yang sama konyolnya dengan dirinya sendiri. Mungkin mereka memang jodoh. Ha-Ha-Ha.
"Ano —saya mau beli yang ini. Keren banget ya, ada Kappa yang kribo," ujar Naoto —masih terkikik. Bocah itu menggoyang-goyangkan tongkat barunya, sambil membayangkan wujud Kappa kribo. Pfft—
Bocah itu segera menyerahkan uang 4,800 yen pada pegawai magang tadi seraya berbisik, "Eh, Yang Mulia Dai kalian itu nyentrik sekali. Dia pemain opera, ya? Sepertinya dia bakal tampak lebih keren jika rambut gondrongnya itu dikribo seperti Kappa kribo ini."
Tanpa menunggu jawaban dari si pegawai magang, Naoto melenggang keluar sambil cekikikan.
Langganan:
Postingan (Atom)